Mendengar kata “standar” sering membuat orang mengernyitkan dahi dan terbayang sebuah dokumen teknis yang isinya penuh bahasa “dewa” dan sukar untuk dimengerti, sehingga jangankan untuk membaca, memegang dokumen untuk mempelajarinya saja sudah enggan. Perspektif tersebut tidak dapat dipungkiri apalagi bagi orang awam, standar masih merupakan hal yang baru. Hampir setiap orang mungkin pernah mendengar kata standar dalam kehidupan sehari-hari, namun belum tentu pernah memegangnya, membacanya, memahaminya, bahkan menerapkannya.

Pada awalnya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dikembangkan dengan menggunakan konsep Regional Model of Competency Standard (RMCS) yang telah diperkenalkan oleh ASDEP ILO untuk wilayah Asia Pacific.  Pemilihan konsep RMCS didasarkan atas beberapa pertimbangan yang antara lain:

  1. Konsep RMCS mempunyai karakteristik yang generik sehingga relatif mudah untuk diterapkan oleh beragam industri maupun operasional di dunia kerja khususnya di Indonesia
  2. Mudah ditulis, dikaji ulang dan diperbaharui
  3. Standar kompetensi dirumuskan dalam unit-unit kompetensi yang memiliki fleksibilitas untuk mengantisipasi perubahan atau penyempurnaan sesuai kebutuhan dunia industri.
  4. Bersifat multi fungsi yaitu dapat digunakan untuk keperluan sertifikasi, pengembangan program pelatihan dan alat untuk keperluan pengembangan SDM di dunia industri
  5. Konsep RMCS merupakan model standar kompetensi yang dikembangkan oleh Internasional Labour Organizition (ILO) di beberapa negara Asia Pasifik yang dinyatakan “compactible” secara International, sehingga terdapat kesepakatan saling pengakuan ”Mutual Recognition Arrangement (MRA)”.

Diharapkan dengan menerapkan standar kompetensi sesuai dengan konsep RMCS, standar tersebut dapat memenuhi aspek format yang sistematis, komunikatif dan kompatibel dengan standar sejenis dari negara lain atau standar Internasional.  Sehingga tenaga kerja Indonesia dapat bersaing secara “fair” dengan tenaga kerja di dalam atau di luar negeri.

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 3 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia

Pengertian Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Definisi standar kompetensi kerja pada prinsipnya merupakan rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, serta sikap kerja. Contoh Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dapat disimak pada Gambar 1.

Standar kompetensi yang disusun tentunya mempertimbangkan sektor industri atau bidang usaha dan pelayanan, serta tingkat atau jenjang kepangkatan atau jabatan. Dapat dibayangkan betapa kompleks dan banyaknya standar kompetensi yang harus disusun dan ditetapkan sampai siap untuk diterapkan oleh pihak-pihak berkepentingan.

Pengalaman Pribadi Terlibat
Penyusunan Standar Kompetensi

Penulis untuk pertama kali mengenal standar kompetensi kerja sekitar tahun 2009 dengan mempelajari standar kompetensi dari Australia yang ternyata telah sangat maju dalam upaya meningkatkan kompetensi sumberdaya manusianya. Meskipun terasa berat saat mempelajarinya disebabkan terkendala masalah bahasa dan format, namun akhirnya awal tahun 2009 beruntung dapat mengikuti pelatihan penyusunan standar kompetensi selama 4 hari di hotel Pitagiri Jakarta sehingga menambah pengetahuan dan keterampilan terkait standar kompetensi.

Diperlukan usaha yang keras dalam memahami tahap-tahap penyusunan, mempelajari struktur, dan karakter bahasa sebuah standar kompetensi. Setelah mengikuti pelatihan tersebut, penulis diminta untuk menyusun sebuah rancangan awal standar kompetensi. Dalam penyusunan ini, penentuan konsep sebuah standar kompetensi, pemetaan unit kompetensi, sampai menentukan judul unit-unit kompetensi menentukan “kedalaman” dan “kelebaran” ruang lingkup bukanlah hal yang mudah.

Keseruan penyusunan sebuah standar kompetensi biasanya terjadi pada saat kegiatan pra konvensi dan konvensi, di mana dikumpulkan para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk menanggapi suatu rancangan standar kompetensi yang telah disusun.  Pengalaman paling seru itu terjadi pada Oktober 2014 pada kegiatan pra konvensi sebuah rancangan standar kompetensi di hotel The Bellezza Suite Jakarta, dimana para senior dan ahli-ahli beradu argumen dalam mengkritisi isi rancangan standar kompetensi, bahkan sampai jam 12 malam hanya membahas untuk menentukan suatu istilah yang akan ditulis dalam rancangan standar. Akhirnya setelah beberapa kali dijeda kopi dan kue-kue manis suasana mencair dan terjadi kesepakatan, sehingga fasilitator akhirnya merasa lega karena rapat pleno dapat dilakukan.

Memperhatikan tahap-tahap penyusunan sebuah standar kompetensi dengan banyak menyelenggarakan kegiatan penyusunan dan referensi, serta mengumpulkan narasumber dan pihak berkepentingan, menjadikan biaya penyusunan sebuah standar kompetensi tidaklah murah dan mudah. Sebuah standar kompetensi dinilai dari azas manfaat yang dipetik oleh masyarakat Indonesia.

© DA 2021

(Bersambung ke bagian 2)

Sumber referensi

Buku Strategi Sukses Uji Sertifikasi Kompetensi Kerja, Alexandra

Buku Competency Management. Palan, R. Ph.D.

Materi Webinar Seri MSDM Aplikatif – Apa & Bagaimana Sertifikasi Profesi SKKNI MSDM, Pembicara Dr. Margaretha Banowati Talim, M.Si, Tanggal 30 Oktober 2020

https://bnsp.go.id/lsp