Kegiatan sertifikasi kompetensi saat ini telah mengalami perkembangan yang cukup pesat daripada 10 tahun lalu, bukan saja menyasar profesi atau tenaga kerja namun telah merambah juga kepada mahasiswa Perguruan Tinggi (PT) khususnya yang vokasi dengan adanya program SKPI, yaitu Surat Keterangan Pendamping Ijazah. Selain itu, bagi peserta didik menengah adanya sertifikasi kompetensi bagi lulusan STM/SMK yang dikeluarkan oleh LSP P1 (Pihak pertama/first party) dari STM/SMK masing-masing. Apalagi derasnya era industri 4.0 mendesak adanya suatu perubahan dan pergeseran pola kerja dimana diperlukan kompetensi-kompetensi baru misalnya dalam bidang IT dan Marketing digital yang marak.

Perkembangan tersebut menjadikan calon peserta yang tertarik mengikuti sertifikasi kompetensi bertambah dari berbagai kalangan, misalnya pelajar STM/SMK, mahasiswa, pencari kerja, karyawan, praktisi, dan masyarakat umum.

Seseorang yang akan mengikuti sertifikasi kompetensi tentunya harus mengetahui dan memahami alur atau tahap-tahap prosesnya terlebih dahulu agar lancar serta sukses dalam mendapatkan sertifikat kompetensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Pada buku “Strategi Sukses Uji Sertifikasi Kompetensi Kerja” secara sederhana menjelaskan tahap-tahap proses sertifikasi kompetensi yang akan dilalui peserta yaitu terdiri atas registrasi, pra asesmen, dan uji kompetensi (asesmen) seperti yang dapat disimak pada Gambar 1 Alur Proses Sertifikasi Kompetensi.

Registrasi Sertifikasi Kompetensi

Pemohon mengajukan permohonan sertifikasi kompetensi kepada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Permohonan dapat dilakukan secara online atau manual dimana hal ini tergantung metode yang ditetapkan oleh LSP. Selanjutnya Pihak Admin LSP akan melakukan verifikasi permohonan terhadap persyaratan atau ketentuan sertifikasi berdasarkan skema sertifikasi kompetensi.

Admin LSP akan memberitahukan status permohonan yang diajukan kepada pemohon, jika diterima maka Pemohon Sertifikasi kompetensi selanjutnya disebut Peserta Sertifikasi dan diinformasikan proses selanjutnya yaitu pra-uji kompetensi, sedangkan jika permohonan tidak memenuhi persyaratan atau ketentuan maka diinformasikan bahwa permohonan belum dapat diproses beserta alasannya.

Konsultasi Pra-Uji

Proses konsultasi pra-uji merupakan kegiatan yang sangat penting dan menentukan efektifitas persiapan uji kompetensi. Pada saat konsultasi pra-uji, peserta dengan asesor kompetensi melakukan pertemuan. Dalam pertemuan ini pada prinsipnya ada 3 agenda penting yaitu wawancara, verifikasi dokumen serta menentukan rencana uji kompetensi.

Dalam pertemuan ini dibahas hal-hal yang terkait dengan proses sertifikasi kompetensi, yang antara lain metode uji kompetensi yang akan dilakukan, standar kompetensi yang diujikan, tujuan uji kompetensi, proses uji kompetensi, konfirmasi jadwal uji kompetensi dan tempat uji kompetensi, sarana dan pra-sarana yang digunakan, hasil uji kompetensi, mekanisme proses banding, sampai umpan balik uji kompetensi.

Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) akan menunjuk asesor kompetensi dengan memperhatikan skema sertifikasi dan unit-unit kompetensi yang akan diujikan. Peserta sertifikasi akan bertemu dengan asesor kompetensi yang ditunjuk untuk melakukan pra uji kompetensi yang berupa kegiatan untuk melakukan verifikasi bukti kompeten dari peserta dengan metode tinjauan dokumen dan wawancara. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan pra uji kompetensi antara lain:

  1. Dilanjutkan pelaksanaan uji kompetensi sesuai Jadwal, dan asesor menentukan metode uji kompetensi yang akan dilakukan,
  2. Melengkapi dokumen atau data yang belum lengkap,
  3. Peserta direkomendasikan mengikuti pelatihan tambahan, atau bentuk tindakan lainnya,
  4. Peserta direkomendasikan mengikuti magang, atau
  5. Pelaksanaan uji kompetensi ditunda.

Uji Kompetensi (Asesmen)

Uji kompetensi dilakukan pada Tempat Uji Kompetensi (TUK) yang telah disepakati. Uji kompetensi dapat dilakukan dengan berbagai metode uji misalnya tes tertulis, tes lisan dengan menjawab pertanyaan, praktik, simulasi, studi kasus, atau portfolio dari produksi atau pelayanan yang dilakukan oleh peserta. Jenis metode uji kompetensi sebelumnya ditetapkan dan disepakati pada kegiatan pra uji kompetensi sebelumnya.

Peserta Uji Kompetensi harus dapat menunjukkan skill, knowledge, dan attitude sesuai masing-masing judul unit kompetensi, terampil menggunakan peralatan pendukung, serta dapat menjelaskan dokumen atau rekaman. Asesor akan memastikan bukti kompeten peserta telah memenuhi aspek Valid, Current, Sufficient, dan Authentic (VCSA) dan kemudian membuat laporan asesmen termasuk rekomendasi keputusan penilaian yaitu kompeten atau belum kompeten.

Laporan asesmen disampaikan kepada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang kemudian diproses oleh Tim Teknis yang menentukan keputusan sertifikasi atas rekomendasi dari asesor kompetensi. Jika hasil keputusan atas sertifikasi telah ditetapkan, maka selanjutnya diproses untuk penerbitan sertifikat kompetensi. Saat peserta sertifikasi telah menerima sertifikat kompetensi bukan sebuah akhir cerita, namun pemegang sertifikat kompetensi harus bersiap untuk kegiatan survailen yang biasanya dilakukan setiap tahun selama sertifikat kompetensi berlaku.

Hmm, jika dicermati memang relatif banyak aspek-aspek yang harus dipersiapkan saat menghadapi uji sertifikasi kompetensi. Jadi, sudah siapkah Anda menghadapi Uji sertifkasi Kompetensi?

Well prepare, well done.

Sumber referensi

 

Buku Strategi Sukses Uji Sertifikasi Kompetensi Kerja, Alexandra

Buku Competency Management. Palan, R. Ph.D.

Materi Webinar Seri MSDM Aplikatif – Apa & Bagaimana Sertifikasi Profesi SKKNI MSDM, Pembicara Dr. Margaretha Banowati Talim, M.Si, Tanggal 30 Oktober 2020

https://bnsp.go.id/lsp