Teknologi informasi, khususnya penggunaan internet sangat berpengaruh dalam evolusi dunia bisnis. Pesatnya penggunaan teknologi informasi sangat terasa saat era industri 4.0 dan masa pandemi Covid-19 yang mengamuk dan memaksa perubahan perilaku manusia dan kegiatan bisnis.

Kecepatan arus informasi yang hanya dalam hitungan detik berpindah dan menyebar luas ke seluruh dunia tanpa dibatasi oleh batas-batas wilayah Negara dapat mengantar kesuksesan atau kehancuran bisnis. Jumlah pengguna media sosial yang meledak dengan berbagai platform riuh rendah di dunia maya merespon berbagai kepentingan.

Suatu Brand atau Merk tertentu yang tengah mengalami permasalahan mi

salnya masalah lingkungan, SARA, atau hak-hak tenaga kerja dapat hancur dalam hitungan hari. Contoh terbaru di tahun 2020 misalnya seruan memboikot produk Prancis akibat pernyataan presiden Emmanuel Macron yang dianggap sudah menghina Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini sudah bukan hanya 1 merk saja, namun berdampak pada berbagai merk yang berasal dari Prancis meskipun pada kenyataannya tempat produksinya ada yang dilakukan di negara negara Asia.

Dengan derasnya arus informasi dan banyaknya masyarakat yang mengetahui dalam hitungan menit atau jam, maka dapat mengurangi pasarnya karena pelanggan merasa ada sesuatu yang kurang atau bermasalah. Bahkan, pelanggan setianya pun akan berkurang kepercayaannya dan merasa kecewa.

Dalam menanggapi masalah ini, suatu perusahaan dituntut untuk dapat memecahkan masalah yang kompleks, sehingga dibutuhkan juga karyawan dengan tingkat kompetensi yang tinggi. Timbulnya masalah-masalah yang kompleks dan memerlukan tindakan dalam waktu yang mendesak, menuntut individu yang matang dan kompeten. Jenis pekerjaan akan menjadi “multi tasking” yang harus dilakukan oleh seorang karyawan. Seorang karyawan dituntut dalam hal pengetahuannya yang harus selalu bertambah, keterampilan yang selalu diuji serta sikap yang sesuai dengan sistem tatakrama sosial dan moral.

Dunia bisnis telah lama bertransformasi dan pada era industri 4.0 diperkirakan akan mencapai puncaknya terhadap pemenuhan-pemenuhan persyaratan baru akan perusahaan yang mempunyai kesadaran akan menjaga keseimbangan alam semesta. Perusahaan-perusahaan yang melakukan tinjauan terhadap visi dan misinya bisnisnya yang disesuaikan dengan permintaan dan fenomena pasarlah yang akan menjadi pemimpin di depan dan juga mungkin perusahaan dengan nilai laba yang paling besar di dunia.

Dalam hal ini perhitungan laba atau keuntungan perusahaan bukanlah hanya menghitung margin penjualan dengan biaya yang dikeluarkan, namun juga seberapa besar perusahaan turut serta menciptakan lingkungan yang hijau kembali, mengurangi pemakaian sumberdaya alam yang tidak terbaharui, memberikan hak-hak karyawannya, serta menunjukkan “respect” terhadap hak-hak asazi manusia.

Bagaimanakah Anda memutuskan jika sebuah perusahaan dengan keuntungan miliaran dolar namun tanpa mengindahkan aspek-aspek lingkungan dan sosial, dengan perusahaan yang hanya menghasilkan laba jutaan dolar namun memberikan dampat positif bagi karyawannya lebih sejahtera, lingkungan yang asri serta pemenuhan aspek sosial terhadap masyarakat di sekitarnya.

Sudah waktunya paradigma keuntungan perusahaan ditinjau ulang!

(Bersambung ke Bagian 2)

Sumber referensi

 

Buku: Strategi CSR Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Sri Urip.

Buku: Manajemen Strategik. Musa Hubeis & Mukhamad Najib.

https://republika.co.id/berita/qj78qe328/boikot-produk-prancis-bentuk-penghormatan-ke-rasulullah