© DA 2021 for Facilitator to Competent

Pada dasarnya seorang konsultan dapat berfungsi sebagai “problem solver”, memberikan “ide”, pembimbing dan alih pengetahuan atau keahlian. Pola pikir seorang konsultan pada dasarnya berpikir dan memandang suatu masalah dari konsep sistem, melakukan prediksi masa yang akan datang dari data-data masa lalu.

Menjadi seorang konsultan haruslah jelas ruang lingkupnya karena akan menjadi sebagai profesi yang terspesialisasi. Seorang konsultan bukanlah seseorang yang selalu menerima pekerjaan kadangkala sebagai konsultan jodoh, konsultan perkawinan sampai konsultan pajak. Hal ini tergantung dari “hobby” dan kesenangan seseorang.

Seseorang akan menikmati pekerjaannya dan sukses karena selalu melakukan sesuatu yang sesuai dengan kesenangannya atau  hobinya. Hal inilah yang menjadikan bekerja bagi seseorang seolah menghisap nafas karena dilandasi oleh perasaan senang dan bukan karena keterpaksaan ekonomi atau kebutuhan semata.

Seorang konsultan dapat dari berbagai latar belakang dengan kemampuan dan spesialisasi masing-masing, misalnya dapatkah seorang pengusaha menjadi konsultan? Jawabnya selama pengusaha tersebut senang atau “Enjoy” dengan jenis pekerjaan tersebut tentu akan sukses. Sang pengusaha tersebut tinggal menyusunan “Track record” kesuksesannya dan disajikan dalam bentuk materi pelatihan atau buku. Ini hanyalah merupakan bentuk “materi” sedangkan manfaat nyatanya adalah kesuksesan pengusaha tersebut dalam membimbing UKM menjadi sukses misalnya.

Kadangkala bukanlah faktor financial yang menjadikan seorang mau bertindak sebagai konsultan, namun merupakan faktor kesenangan dan juga rasa kenikmatan dalam  membantu orang lain untuk mencapai sukses. Dalam hal ini seorang pengusaha tersebut dapat memberikan bimbingan usaha secara langsung, penyelesaian masalah yang dihadapi, dan memberikan pelatihan.

Lain lagi jika seseorang yang banyak berpengalaman dalam bidang manajemen di sebuah perusahaan, misalnya dalam penerapan sistem manajemen ISO 9001 seperti yang telah disinggung diatas. Pengalamannya dalam menempuh halangan dan rintangan “set-up” dan penerapan dapat menjadikannya sebuah “produk”. Produk ini, misalnya dapat berupa jasa bimbingan penerapan sistem manajemen dan pelatihan ISO 9001. Dalam hal ini yang menjadi seorang konsultan adalah seorang praktisi yang telah pengalaman. Pengalaman dan strateginya dapat diterapkan diperusahaan yang menjad kliennya.

Seorang auditor internal dalam bidang akunting yang telah berpengalaman tidak ada salahnya untuk berbagi pengalamannya dalam hal menghadapi audit keuangan bagi perusahaan-perusahaan. Saat ini masalah perpajakan dan Bea Cukai merupakan masalah yang banyak dihadapi oleh perusahaan. Tentu saja tugas konsultan keuangan ini bukanlah seperti “Gayus” yang sangat pintar menghasilkan miliaran rupiah dari penyalahgunaan jabatannya.

Bersambung ke Bagian 2